The Last Screenwriter: Naskah Film Pertama Buatan AI Batal Tayang [Sinopsis, Pemeran, Trailer]

Sinopsis: The Last Screenwriter menceritakan pergulatan penulis naskah manusia vs penulis naskah AI, kecerdasan buatan canggih yang jadi kontroversi

"The Last Screenwriter" adalah film tahun 2024 yang cukup menonjol dan kontroversi karena ditulis dengan menggunakan kecerdasan buatan. Dibuat dan disutradarai oleh Peter Luisi, film ini dibuat dengan bantuan ChatGPT dan dipasarkan sebagai film pertama yang seluruhnya ditulis oleh AI. Plotnya berpusat di sekitar seorang penulis skenario manusia yang menghadapi sistem penulisan naskah AI, menyelidiki dinamika menarik antara kreativitas manusia dan kecerdasan buatan. Film ini dirilis 3 Juli 2024.

The Last Screenwriter - oleh spotlightmedia

Film tersebut dijadwalkan untuk pemutaran pribadi di Bioskop Pangeran Charles London pada 16 Juni 2024. Namun, acara ini dibatalkan setelah pengunjung menyatakan kekhawatirannya tentang penggunaan AI sebagai pengganti penulis. Kontroversi ini menyoroti perdebatan yang sedang berlangsung mengenai peran AI dalam industri kreatif dan dampaknya terhadap peran tradisional dan ekspresi artistik.

The Last Screenwriter mengangkat pertanyaan tentang masa depan pembuatan film dan pertimbangan etis seputar keterlibatan AI dalam proses kreatif. Sebagai film pertama dari jenisnya, film ini menjadi preseden bagi eksplorasi masa depan atas konten yang dihasilkan AI di bioskop.

The Last Screenwriter menjadi film terkini yang dikomplain setelah mengangkat status kecerdasan buatan sebagai kontributor dalam film mereka. Film ini disutradarai oleh Peter Luisi dengan pemeran utama Nicholas Pople, Bonnie Milnes, Anna Arthur.

Overview:

Di Hollywood yang dinamis, di mana mimpi diubah menjadi naskah dan realitas yang dibentuk melalui penceritaan, sebuah babak baru sedang ditulis—sebuah babak di mana batas antara kreativitas manusia dan kecerdasan buatan menjadi kabur dengan cara yang tidak terduga.

Jack, seorang penulis skenario ternama, telah lama dihormati karena kemampuannya menciptakan narasi yang sangat disukai penonton. Penanya telah menghidupkan karakter-karakter yang melekat di pikiran. Namun baru-baru ini, dunia Jack mengalami perubahan yang menarik ketika ia menemukan sistem penulisan naskah AI yang canggih.

Awalnya skeptis terhadap penantang digital ini, skeptisisme Jack lenyap saat ia menyaksikan AI dengan mudah menyusun plot yang cukup rumit untuk menyaingi miliknya. Namun, yang benar-benar mengejutkan Jack adalah pemahaman AI yang menakjubkan terhadap emosi manusia. Ini bukan hanya tentang membangun adegan; AI sepertinya memahami seluk-beluk suka, duka, dan setiap nuansa di antaranya—keterampilan yang membuat Jack minder sekaligus tertarik.

Ketika hari berganti, minggu berganti, Jack mendapati dirinya bergulat dengan campuran rasa bangga dan ketakutan yang penuh gejolak. Mungkinkah AI ini, dengan ketepatan algoritmiknya, benar-benar meniru kreativitas manusia yang tak terlukiskan? Apakah dia, yang ahli dalam profesinya, menghadapi masa depan di mana keahliannya mungkin tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan inovasi teknologi yang tiada henti?

Titik balik terjadi ketika Jack dihadapkan pada sebuah proposisi yang berani: berkolaborasi dengan AI dalam sebuah film layar lebar, di mana setiap adegan, setiap dialog, akan ditulis bersama oleh mesin ini. Ini adalah proposisi yang menggugah keingintahuan artistiknya dan rasa tidak amannya yang terdalam.

Akankah kolaborasi ini menandai sebuah revolusi dalam penyampaian cerita, perpaduan harmonis antara wawasan manusia dan kecakapan komputasi? Atau akankah ini berarti akhir dari sebuah era, di mana tangan seniman dikalahkan oleh perhitungan dingin dari pikiran silikon?

Bagi Jack, perjalanan ini bukan sekadar menerima perubahan namun menghadapi esensi kreativitas itu sendiri. Saat ia memulai usaha yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, ia mendapati dirinya menavigasi dunia yang belum dipetakan di mana batas-batas kepenulisan menjadi kabur dan masa depan penceritaan berada di ujung tanduk.

Pada akhirnya, mungkin, apa yang ditemukan Jack bukan sekedar konfrontasi dengan teknologi, namun eksplorasi mendalam tentang apa artinya menjadi pengarang di zaman di mana inovasi tidak mengenal batas—sebuah bukti kekuatan imajinasi yang abadi, baik manusia maupun manusia palsu.

Ketika pujian diberikan pada karya kolaboratifnya, Jack memahami bahwa keajaiban sebenarnya dari bercerita melampaui alat yang kita gunakan untuk menceritakannya. Entah lahir dari daging atau sirkuit, kisah-kisah yang menyentuh hati kita adalah kisah-kisah yang mencerminkan kemanusiaan kita bersama—sebuah kebenaran yang bahkan tidak dapat ditiru oleh AI paling canggih sekalipun.

Dalam catatan sejarah sinematik, perjalanan Jack berdiri sebagai bukti berkembangnya kreativitas—sebuah narasi di mana penyatuan manusia dan mesin, alih-alih menghapus tradisi, malah memperkaya jalinan penceritaan itu sendiri.

Pemeran:

  • Nicholas Pople sebagai Jack
  • Bonnie Milnes sebagai Sarah
  • Anna Arthur sebagai Sistem AI
  • Christian Vaccaro sebagai Mark
  • Teddy Holton-Frances sebagai Alex
  • Phil Cardwell sebagai Paul Davidson
  • Marek J Antoszewski sebagai Richard
  • Dominique Lubis sebagai Rachel

About the Author

charma adalah nama online blogger, sejak 2014 telah mengisi hari-hari dengan mengangkat informasi film dan novel, berhenti sejenak dan masih terus mencoba bertahan dengan cara lama di arena yang sangat besar ini. Terimakasih gaiss atas kunjungannya …

Post a Comment

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.